17 Tahun Buru Selatan, Waktunya Berlari

Seperti manusia yang mulai dewasa pada umur 17 tahun, sebuah wilayah juga masuk babak penting dalam tentukan arah dan jati dianya.

Kabupaten Buru Selatan, yang lahir di 2008, sekarang sudah genap berumur 17 tahun. Pada usia ini, waktunya wilayah ini stop “belajar jalan” dan memulai berlari dengan cara tentu: perkuat jati diri, memperjelas fokus, dan menata peraturan yang berakar pada keperluan masyarakat.

Tujuh belas tahun bukan waktu yang cepat. Dia ialah lumayan panjang untuk ajukan beberapa pertanyaan penting: Apa yang telah diraih? Apa yang tetap ketinggalan? Dan, yang paling fundamental: Apa yang perlu diperbarui supaya kedatangan pemerintahan betul-betul dirasa sampai ke desa dan daerah terasing?

Ada beberapa refleksi yang dapat menjadi injakan untuk pembenahan kedepan.

Pertama, mengganti skema pembangunan dari simbolis ke signifikan. Sejauh ini, pembangunan sering fokus pada penampilan luar: taman kota, gapura, atau project resmi.

Walau sebenarnya, permasalahan khusus warga berada pada akses pada air bersih, listrik dusun, jalan yang pantas, service kesehatan, dan pendidikan.

Pemda perlu geser konsentrasi ke pembangunan yang sentuh kualitas hidup, khususnya untuk mereka yang ada di daerah-daerah tepian.

Ke-2 , perkuat keterlibatan warga dalam rencana. Banyak peraturan lahir dari ruang-ruang tertutup, lewat pendekatan elitis. Inspirasi masyarakat dusun dan komune tradisi hampir tidak kedengar pada proses Musrenbang.

Ruangan permufakatan yang terbuka dan sama dengan harus dibuat lagi, bukan sebagai normalitas, tetapi sebagai dasar demokrasi lokal.

Ke-3 , mengatur skema kepimpinan. Di tengah-tengah kritis keyakinan pada lembaga politik, style kepimpinan birokratis yang memiliki jarak dengan masyarakat tak lagi berkaitan.

Kepimpinan ini hari harus layani, bukan memerintah; menjadi panutan dalam norma, kredibilitas, dan usaha keras.

Ke-4, mengutamakan pengokohan ekonomi masyarakat dan sumber daya manusia lokal. Keterikatan pada bidang primer seperti pertanian, perikanan, dan kehutanan belum sempat dibarengi usaha hilirisasi dan kenaikan nilai lebih.

Walau sebenarnya, kekuatan lokal yang lebih besar menjadi sumber kesejahteraan bila dibarengi investasi pada pendidikan, training ketrampilan, dan peningkatan ekonomi inovatif.

Ke-5, jadikan pendidikan sebagai fokus mutlak. Ada banyak beberapa anak Buru Selatan yang susah terhubung sekolah yang pantas. Di lain sisi, kualitas pendidikan yang tidak rata membuat kesenjangan peluang.

Masa datang wilayah ini tergantung pada berapa serius kita memperlengkapi angkatan mudanya dengan ilmu dan pengetahuan dan watak.

Ke enam, mengatur ruangan kota dan menjaga lingkungan hidup. Kota Namrole sebagai pusat pemerintah belum teratur secara baik.

Banjir yang sering terjadi, seperti pada Kali Waikelo, dan pengendalian sampah yang masih belum maksimal memperlihatkan keutamaan pengaturan ruangan yang memihak di lingkungan dan keselamatan masyarakat. Gagasan tata ruangan yang tegas dan berpandangan jauh di depan menjadi keperluan mendesak.

Ke-7 , membuat budaya transparan dan responsibilitas. Kesan-kesan jika pengendalian bujet tetap tertutup tidak dapat didiamkan.

Loyalitas untuk buka akses public pada APBD, menilai program dengan teratur, dan memberantas praktek korupsi di tingkat wilayah ialah persyaratan untuk bertumbuhnya keyakinan masyarakat.

Momen 17 tahun ialah titik kembali yang akurat. Buru Selatan harus memperjelas opsi: masih tetap jalan lamban dengan skema lama, atau mulai berlari memburu ketinggalan dengan arah yang terang dan keterpihakan yang riil pada masyarakatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *